Jakarta – Pihak Kepolisian Inggris sudah mengantongi identitas tersangka pelaku teror bom yang menghantam Manchester Arena dan menghilangkan nyawa 22 orang serta melukai 59 lainnya. Nama dari tersangka adalah Salman Ramadan Abedi.

Salman Abedi
Lelaki berusia 23 tahun tersebut adalah lelaki yang ditangkap pada Selasa (23/5/2017) seiring penyelidikan yang dilakukan oleh aparat.
Abedi diketahui sebagai warga Manchester keturunan Libya. Polisi pun memastikan identitas Abedi setelah pejabat Amerika Serikat memberikan informasi tersebut kepada media. Padahal, otoritas Inggris ingin menyimpan informasi itu karena penyelidikan masih berlanjut.
Abedi memang telahtercatat namanya dalam catatan kepolisian. Namun ia tidak dikategorikan sebagai berisiko atau harus diwaspadai. Abedi dinilai sebagai warga biasa-biasa yang tidak bermasalah. Polisi pun saat masih menyelidiki apakah Abedi bekerja sendiri atau memiliki jaringan yang membantunya dalam bikin bom dan melakukan kejahatan tersebut.
Tidak berhenti sampai di situ, penangkapan Abedi ini juga menimbulkan pertanyaan apakah bom tersebut adalah bom bunuh diri atau bom yang diledakkan dengan remote control. Sebelumnya sempat santer beredar kabar jika itu adalah bom bunuh diri dan pelaku ikut tewas dalam kejadian tersebut.
Meski demikian, sebelum nama Abedi muncul pun, beberapa anggota komunitas Libya di selatan Manchester menduga apakan pelaku bom adalah salah seorang dari mereka. Mereka berpikiran, salah satu anak muda yang berjuang di Libya saat revolusi 2011, mungkin mengalami trauma dan kemarahan. Dan itu memicu aksi anarkis tersebut.
Tetapi, tidak ada yang menduga itu Abedi yang bahkan lahir di Inggris. Abedi yang dianggap sebagai anak muda pendiam, alim, dan selalu menghormati orang tua, tidak diprediksi akan melakukan pembunuhan massal.
Sebelumnya, ISIS mengklaim berada di balik insiden mematikan tersebut. Namun polisi tidak punya bukti untuk mendukung klaim tersebut.
”Salman (panggilan akrab Abedi, Red) saya terkejut,” kata seorang anggota komunitas Libya Manchester seperti dilansir dari The Guardian, Rabu (24/5/2017).
”Dia anak pendiam yang menghormati orang tua. Kakaknya, Ismail, lebih terbuka dan ramai. Namun Salman pendiam. Dia bukan anak yang akan melakukan hal seperti ini,” sambungnya.
Salman dan Ismail menjadi jamaah Masjid Didsbury. Di sana ayah mereka Abu Ismail juga menjadi tokoh yang dihormati. ”Abu Ismail sangat shock. Dia sangat beseberangan dengan ideologi jihad. Dan ISIS ini bahkan bukan jihad. Itu kriminal. Keluarganya akan terluka.”
Abu Ismail Abedi, Kini diperkirakan tengah berada di Tripoli. Sedangkan istrinya Samia di Manchester. Pasangan tersebut juga punya anak lelaki ketiga Hashem dan anak perempuan Jomana.
”Saya tidak yakin Salman diradikalisasi di Tripolis. Semua itu pasti berasal dari kota ini. Manchester.”
Baca juga: Driver Muslim Ini Gratiskan Taksinya Demi Bantu Korban Bom Manchester
Tetapi, tokoh Muslim lainnya di komunitas Libya Mohammed Saeed memaparkan hal sebaliknya. Saeed menceritakan betapa Salim memandangnya dengan kebencian saat dia memberikan ceramah yang mengkritik habis ISIS dan Ansar al-Sharia di Libya.
”Ada 2.000 anggota Masjid Didsbury yang bersama saya. Sebagian kecil bertolak belakang dengan pemikiran saya. Sebagian lain menandatangani petisi menentang saya. Dan Salman menunjukkan wajah kebencian setelah ceramah itu,” pungkasnya. (Yayan – www.harianindo.com)